Selasa, 12 Oktober 2021

Teknik Pembukaan Lahan Zero Burning

A. Teknik Zero Burning

 
 
Teknik zero burning adalah sebuah metode pembersihan lahan dengan cara melakukan penebangan tegakan pohon pada hutan sekunder atau tanaman pada tanaman perkebunan yang sudah tua misal kelapa sawit, kemudian dilakukan pencabikan (shredded) menjadi bagian-bagian yang kecil, ditimbun dan ditinggalkan disitu supaya membusuk/terurai secara alami.

Pembukaan lahan dapat dilakukan dengan 3 cara sebagai berikut:

    1.   Manual

Terutama tenaga manusia, alat-alat sederhana, pemakaian tenaga sangat banyak

2.      Mekanis

Menggunakan alat-alat pertanian seperti traktor, buldozer. Cara ini digunakan pada areal yang rata (kemiringan 0-8%). Pekerjaan dapat dilakukan lebih cepat. Satuan penggunaan alat berat dalam JKT (jam kerja traktor)

3.      Chemis

Peracunan pohon atau penyemperotan dengan bahan kimia tertentu (untuk lalang). Pada daerah curah hujan tinggi kurang efektif. Dibutuhkan air untuk pelarut herbisida.

 Pilihan: tergantung pada keadaan lapangan, ketersediaan tenaga kerja, dana, alat-alat serta jadwal waktu penanaman yang ditargetkan. Dalam pelaksaannya dapat menggunakan cara kombinasi.

Larangan: Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1995 tidak membenarkan melakukan pembakaran untuk tujuan pembukaan lahan.

    B. Manfaat Teknik Zero Burning 

Berikut manfaat dari teknik zero burning:

    1. Merupakan pendekatan ramah lingkungan yang tidak menyebabkan polusi udara.
    2. Mengurangi emisi gas rumah kaca (GHG) terutama CO2.
    3. limbah biomasa tanaman (bahan organik) dapat terurai sehingga meningkatkan penyerapan air dan kesuburan tanah yang dapat mengurangi kebutuhan pupuk anorganik dan mengurangi resiko polusi air yang disebabkan oleh pencucian nutrisi di permukaan.
    4. Penanaman bibit secara langsung pada timbunan limbah organik akan menambah manfaat agronomi (mempunyai nilai total nitrogen, potassium tertukar, kalsium dan megnesium yang lebih tinggi dan kehilangan nutrisi yang lambat).
    5. Pelaksanaanya tidak bergantung pada kondisi cuaca.
    6. Mempunyai periode keterbukaan lahan yang lebih singkat sehingga meminimalisasi dampak aliran  permukaan (run off) yang dapat menyebabkan penurunan muka air tanah, subsiden dan polusi.
    7. Pelaksaaan teknik zero burning dalam penanaman kembali kelapa sawit akan memberikan keuntungan tambahan berupa pemanenan secara kontinyu (terus menerus) sampai kelapa sawit ditebang.

   C. Hambatan Pelaksanaan Teknik Zero Burning

                    
                Berikut hambatan pelaksanaa dari teknik zero burnig:
    1. Terdapatnya serangan hama Oryctes rhinocerous (sejenis serangga) dan penyakit Ganoderma boninense (sejenis jamur) terhadap tanaman yang dibutuhkan kecuali dilakukan tindakan pencegahan yang intensif sebelum dan selama pelakasaan teknik zero burning.
    2. Pada hutan sekunder san rawa gambut, pelaksaan zero burning membuat daerah ini rawan terhadap serangan Rayap Captotermes Curvinaathus, Macrotermes Gilvus.
    3. Timbunan kayu atau biomasa dapat menjadi tempat berkembang biak tikus.
    4. Secara umum, teknik zero burning adalah lebih mahal untuk dilaksakan terutama pada lahan dengan volume biomasa yang tinggi. Teknik ini juga membutuhkan peralatan mesin berat yang tidak mungkin dapat disediakan oleh perkebunan berskala kecil.
    5. Pada saat musim kemarau, timbunan biomasa dapat mengalami pengeringan dan dapat menjadi sumber terjadinya kebakaran.

     D. Teknik Zero Burning untuk Penanaman Kembali pada Lahan Gambut

 Teknik zero buring dalam sistem penyiapan lahan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
    1. Perencanaan
      • Pembuatan desain yang mempertimbangkan lingkup pekerjaan, ketersediaan dari peralatan dan mesin yang dibutuhkan, waktu pelaksanaan dan anggaran biaya.
      • Pelatihan (training) atau field trip untuk personil atau kontraktor pelaksana yang kurang memahami teknik zero burning.
      • Penataan kembali jalur jalan atau sistem drainase: Jika lahan mempunyai sejarah terserang Ganoderma, dilakukan penanaman dengan tingkat kerapatan yang lebih tinggi.
    2. Penanggulangan Ganoderma
      • Dilakukan sensus tanaman yang terserang Ganoderma, ditandai lalu dicatat:
      • Pohon yang terserang penyakit ditebang sebelum penanaman kemudian dilakukan pencabikan (shredding) dan ditempatkan baris menggunakan excavator.
    3. Penentuan Batas
      • Penentuan batas dilakukan dengan baris tanaman baru, jalan, jalur pemanenan dan saluran drainase.
    4. Pembuatan Jalan dan Saluran
      • Pembuatan saluran sekunder dapat dikerjakan sebelum atau sesegera mungkin setelah penebangan:
      • Pada kondisi saluran drainase lama tidak sesuai dengan layout yang baru maka harus ditimbun dengan tanah dan saluran drainase baru segera mungkin. Tetapi jika saluran drainase lama dapat dipertahankan, maka dilakukan pengerukan lumpur sampai mempunyai kedalaman yang sama dengan saluran drainase yang baru:
      • Pada daerah datar, saluran drainase sekunder dibangun pada setiap empat atau delapan baris tanaman.
      • Pembuatan saluran drainase baru menggunakan double rotary ditcher, Buldozer atau Excavator digunakan untuk membuat jalan baru, yang sebaliknya dibuat agak tinggi agar jalan tersebut tidak becek/basah.
    5. Penebangan dan Pencabikan (shredding)
      • Tanaman yang sudah tua ditebang langsung menggunakan Excavator
      • untuk efektivitas pencabikan (shredding), mata pisau pemotong dibuat dari high tensile carbon steel:
      • Batang pohon dipotong-potong, pemotongan secara normal dilakukan dimulai dari bagian bawah batang.
    6. Penimbunan
      • Pada area dimana antara dua saluran drainase sekunder dibangun 4 baris tanaman, penimbunan material yang telah dipotong kecil-kecil dilakukan dipusat pada 4 baris tanaman diantara dua saluran sekunder
      • Pada area dimana antara dua saluran drainase sekunder dibangun 8 baris tanaman, penimbunan material hasil:
      • Pencabikan dilakukan secara bergantian antara baris tanaman di antara jalur drainase.
    7. Pembajakan dan Pengarungan
      • Setelah penebangan, pencabikan (shredding) dan penimbunanan selesai, pembajakan dan pengarukan dikerjakan sepanjang baris tanaman baru untuk menyiapkan areal permukaan tanam.
    8. Penanaman Tanaman polong-polongan (Legume) sebagai Tanaman Penutup
      • Tanaman Legume harus segera ditanam setelah penyiapan lahan selesai untuk memastikan kerapatan penutupan lahan dan mempercepat dekomposisi biomasa tanaman. Legume yang menutupi kayuan akan mengurangi resiko kebakaran , mengurangi perkembangbiakan serangga Oryctes dan pertumbuhan rumput.
      • Selain itu, legume dapat meningkatkan/memperbaiki kondisi fisik tanah dan kimia tanah, terutama sebagai fiksasi nitrogen:
      • Tanaman legume yang sering digunakan adalah kacang riji pueraria Javanica, Kacang calopogonium mucinoides dan calopogonium caeruleum.
    9. Pembuatan lubang tanam dan penanaman pembuatan lubang tanam dan penanaman dapat dilakukan segera setelah penyiapan lahan selesai. Pembuatan lubang tanam dapat dilakukan secara mekanis dengan alat pelubang tanam.
    10. Penumpukan/pencacahan (Pulverization)
      • Kebutuhan dilakukannya penumpukan tergantung pada resiko serangan hama oryctes. Pada lahan dimana terjadi serangan oryctes, terutama di sekitar pantai, penumpukan seharusnya dikerjakan dua sampai enam bulan setelah penebangan dan pencabikan untuk mempercepat perurainya/pembusukan:
      • Penumbukan dapat dilakukan menggunakan sebuah modifikasi heavyduty rotary slasher atau mulcher yang dipasang pada traktor 80-100 HP.
    11. Manajemen paska penanaman
      • Setelah penanaman, perhatian utama seharusnya diberikan pada:
      • Manajemen pengelolaan hama dan penyakit:
      • Pemantauan secara rutin terhadap kerusakan yang disebabkan oleh tikus dan jika memungkinkan dilakukan pembasmian dengan rodentisisda.
E. Teknis Pemadaman Kebakaran

   Teknis pemadaman merupakan langkah-langkah tentang bagaimana melakukan    kegiatan pemadaman sesuai dengan tipe kebakaran dan mempersiapkan peralatan yang akan digunakan. Teknis pemadaman yang dapat dilakukan pada daerah hutan dan lahan gambut adalah sebagai berikut:

    1. Menentukan arah penjalaran api (arah penjalaran api dapat diketahui melalui pengamatan dari tempat yang lebih tinggi ataupun dengan memanjat pohon).
    2. Sebelum dilakukan tindakan pemadaman, maka jalur transek yang jenuh air dibuat untuk menekan laju penjalaran api (berfungsi sebagai sekat bakar buatan) yang tidak permanen:
    3. untuk menghindari api loncat maka perlu dilakukan penebangan pohon mati yang masih berdiri tegak (snags). Karena ketika angin bertiup kencang, api yang telah merambat sehingga ke puncak pohon mati ini bara apinya atau bahkan bagian yang masih membawa lidah api dapat terbang hingga mencapai lebih dari 200m.
    4. Apabila pada daerah tersebut tidak ada sumber air maka yang harus dilakukan adalah membuat sumur bor. Kalau sumber air ada tetapi cukup jauh maka suplai air dilakukan dengan estafet (menggunakan beberapa pompa air). Jika dilakukan pembuatan sumur bor, maka koordinatnya perlu dicatat sehingga memudahkan dalam menemukan kembali titik-titik sumber air ini pada waktu-waktu berikutnya jika terjadi kebakaran lagi.
    5.  Pemadaman secara langsung sebaiknya dilakukan dari bagian ekor (belakang) atau sisi kiri dan kanan api. Jangan melakukan kegiatan pemadaman dari bagian depan (kepala api) karena akan sangat berbahaya. Tinggi nyala api (flame hight) dan panjang lidah api (falme length) selalu berubah-ubah dan sukar diperkirakan arah dan laju penjalarannya: asapnya banyak dan panas, sehingga air yang disemprerotkan menjadi tidak efektif (karena tidak langsung kena ke sumber api).
    6. Pemadaman secara tidak langsung dapat dilakukan dengan teknik pembakaran terbalik (backing fire), yaitu pembakaran dilakukan berlawanan dengan arah penjalaran api yang dikombinasikan dengan pembuatan sekat bakar buatan.
    7. Pemadaman dilakukan dengan teknik yang benar dan terkoordinasi seperti halnya dalam penggunaan peralatan pompa mesin yang berkombinasi dengan peralatan tangan.
    8. Pada daerah bekas terbakar terlebih dahulu dilakukan kegiatan mop-up (pembersihakn sisa-sisa bara api) untuk memastikan bahawa api telah benar-benar padam dengan cara melakukan penyemprotan air pada permukaan lahan bekas terbakar, hal ini penting dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan timbulnya kebakaran ulang.
    9. Personil pemadam harus berjalan hati-hati dengan menggunakan bantuan papan panjang sekitar 2 m agar tidak terperosok pada lubang bekas terjadinya kebakaran atau mengatisipasi kemungkinan timbulnya nyala api.
    10. Pemadaman pada bagain permukaan dilakukan dengan cara melakukan penyemprotan terhadap sumber api secara terarah (tepat sasaran) dengan menggunakan mesin pompa. Penyemprotan dilakukan secara tepat sasaran dan efektif sehingga air tersedai yang jumlahnya terbatas dapat digunakan secara optimal. Untuk mencapai sasaran tersebut lakukan kegiatan pencacahan tunggak/batang dengan menggunakan parang sehingga api benar-benar dapat dikendalikan dan padam.
    11. Apabila terjadi kebakaran tajuk, maka kegiatan pemadaman secara langsung dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan alat-alat berat seprti pesawat, traktor, buldozer, atau dilakuakn metode pemadaman tidak langsung yaitu dengan melakukan pembakaran terbalik (pembakaran dilakukan berlawanan dengan arah penjalaran api).
    12. Pelaksanaan pemadaman pada kebakaran tajuk dengan alat-alat seperti ini tidak terlalu memerlukan personil yang cukup banyak dalam mengontrol jalannya kegiatan pemadaman, namun disarankan agar cara ini dihindari pada lahan gambut karena arah penyebaran apinya sangat sulit untuk diperkirakan.
    13. Jika terjadi kebakaran bawah (ground fire) terutama pada lahan gambut di musim kemarau maka dilakukan pemadaman dengan menggunakan stik jarum yang ujungnya berlubang. Dalam pelaksanaannya, nosel stik jarum dapat ditusukkan pada daerah sumber asap hingga bahan bakar gambut menjadi gambar bagian-bagian api tampak seperti bubur karena januh air. Penusukan berulang-ulang dilakukan sampai apinya padam.
    14. Pemadaman api sisa yang letaknya tersembunyi sangat diperlukan mengingat api semacam ini sering tertinggal/bersembunyi di bawah tunggak atau sisa-sisa batang yang terbakar di lahan gambut. Pemadaman api sisa semacam ini dapat kita lakukan dengan membongkar/menggali dengan menggunakan cangkul kemudian disemprot lagi dengan air agar betul-betul apinya padam (tidak berasap lagi). Api sisa semacam ini dapat berkobar kembali jik ia bertemu dengan bahan/gambut kering di bawahnya.

    Pengendalian Gulma

    Pengendalian gulma dengan menggunakan bahan aktif Metil Metsulfuron + Gliphosate 🔥