PENGENDALIAN PENYAKIT BERCAK DAUN PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis Guineensis Jacq) TAHAP PRE NURSERY
Kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq) merupakan tanaman komersial dari keluarga palem yang mampu menghasilkan minyak nabati yang dapat dimakan. Saat ini kelapa sawit banyak diminati untuk dibudidayakan oleh para pengusaha dan masyarakat. Daya tarik budidaya kelapa sawit menjadi andalan sumber minyak nabati dan bahan agroindustri (Sukamto, 2008).
Peningkatan produksi minyak sawit harus diupayakan peningkatan produksi untuk menyongsong era perdagangan bebas. Salah satu peningkatan produksi dari segi budidaya. Menurut Sukamto (2008), produksi minyak sawit Indonesia yang telah melampaui produksi minyak sawit Malaysia sebenarnya disebabkan oleh perluasan areal tanam, bukan faktor produktivitas.
Salah satu aspek yang harus mendapat perhatian khusus dalam mendukung program pengembangan kawasan kelapa sawit adalah penyediaan benih yang sehat, berpotensi lebih baik, dan tepat waktu. Faktor benih memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan penanaman kelapa sawit. Kesehatan tanaman pembibitan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan tingkat produksi selanjutnya setelah ditanam di lapangan. Oleh karena itu, teknik pengelolaan pembibitan kelapa sawit memerlukan perhatian khusus (PPKS, 2006).
Pembibitan kelapa sawit yang dijalankan oleh CV Manunggal Sawit Sejahtera merupakan salah satu langkah awal untuk menciptakan bibit yang sehat, berpotensi sempurna dan tepat waktu. CV Manunggal Sawit Sejahtera sendiri merupakan hasil kerjasama enam unit koperasi desa, antara lain KUD Bersama Makmur, KUD Jaya Usaha Mandiri, KUD Mandiri, KUD Jaya Makmur, KUD Sumber Sari, KUD Sumber Tani Mandiri dan KUD Tani Mandiri Jaya, yang berlokasi di Rayon D, (Kec. Tungkal Jaya), Sekayu, Sumatera Selatan. Mengenai beberapa kendala yang ditemui dalam pelaksanaan pembibitan kelapa sawit ini, seperti serangan bibit oleh berbagai hama seperti: penyakit Curvularia, penyakit antraknosa dan berbagai hama lainnya. Bercak daun yang disebabkan oleh Curvularia sp. di pembibitan kelapa sawit dapat mencapai 38% (Sholehudin et al. 2012).
Penyakit Curvularia dapat menyebabkan kematian bibit kelapa sawit jika tidak dikendalikan dengan baik. Dengan demikian proses pelaksanaan kegiatan pemeliharaan di pembibitan kelapa sawit terganggu, namun hal tersebut tidak menghalangi produksi bibit kelapa sawit yang berkualitas sebagai prioritas untuk memenuhi kebutuhan bibit peremajaan kelapa sawit serta terjaminnya kualitas dan kuantitas bibit.
Penyebab Penyakit Bercak Daun di Pembibitan Kelapa Sawit
Penyakit bercak daun disebabkan oleh jamur Curvularia sp. Curvularia sp merupakan jamur patogen yang menyebabkan penyakit bercak daun pada tanaman kelapa sawit sehingga dapat mengganggu proses fotosintesis pada tanaman. Gejala serangan yang disebabkan oleh penyakit Curvularia sp. Yaitu bercak muncul saat tanaman berumur 4 sampai 6 minggu, berbentuk lingkaran dengan berdiameter berukuran 1,5 sampai 6 mm, bagian pusat bercak transparan dan bagian tepi berwarna coklat tua, pada kondisi lembab, daun yang terinfeksi menjadi kuning dan busuk, sedangkan pada kondisi kering daun menjadi kering dan rontok, adanya bercak bulat pada bibit kelapa sawit dan perlahan melebar.
Pengendalian Penyakit Bercak Daun di Pembibitan Kelapa Sawit
Tahapan pertama
Pengendalian penyakit bercak daun dilakukan dengan memisahkan tanaman yang terserang lalu menyiapkan ruangan isolasi untuk tanaman yang terserang. selanjutnya memotong bagian daun tanaman yag terserang penyakit dan setelah itu ruangan isolasi di sterilisasi dengan jenis fungisida yang berbahan aktif mankozeb atau sejenisnya.
Tahapan terakhir
Berdasarkan jenis bahan aktif fungisida yang digunakan adalah dithane M-45 80 WP. Dithane M-45 80 WP merupakan fungisida protektif berbentuk tepung yang dapat disuspensikan berwarna kuning keabu-abuan untuk mengendalikan penyakit bercak daun pada tanaman kelapa sawit, bawang, kakao, kacang tanah, kopi, karet, kentang, kelapa, dan tembakau. Dengan kandungan bahan aktif Mankozeb 80 WP yang memiliki cara kerja fungisida dithane sebagai racun kontak dan sistemik. Dosis yang digunakan untuk pembibitan kelapa sawit adalah 80 gr/lr sesuai dengan kebutuhan tanaman yang terserang penyakit. Penyemprotan dilakukan pagi hari setiap seminggu sekali.
Dokumentasi pengendalian
Penulis : Muhamad Mahruddin
IG @muhamadmahruddin
Blogger : https://plantersawitmuda.blogspot.com