Kamis, 09 September 2021

Sejarah Perkebunan Kelapa Sawit

Awal Masuk Kelapa Sawit Ke Indonesia


Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1848, saat itu ada 4 batang bibit kelapa sawit yang dibawa dari Mamitius dan Amsterdam kemudian ditanam di Kebun Raya Bogor.

Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai dibudidayakan secara komersial. Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Haller (orang Belgia). Kemudian diikuti oleh K. Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai berkembang.

Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan kelapa sawit waktu itu mencapai 5.123 Ha.

Pada tahun 1919, Indonesia mengekspor minyak sawit sebesar 576 ton dan pada tahun 1923 mengekspor minyak inti (PKO) sebesar 850 ton. Pada masa ke pendudukan Belanda, perkebunan kelapa sawit maju pesat sampai bisa menggeser dominasi ekspor Negara Afrika pada saat itu.

Pada masa ke pendudukan Jepang, perkembangan kelapa sawit mengalami kemunduran. Lahan perkebunan mengalami penyusutan sebesar 16% dari total luas lahan yang ada sehingga produksi minyak sawit di Indonesia hanya mencapai 56.000 ton pada tahun 1948/1949, padahal pada tahun 1940 Indonesia mengekspor 250.000 ton minyak sawit. Pada tahun 1957, setelah Belanda dan Jepang meninggalkan Indonesia, pemerintah mengambil alir perkebunan.

Luas areal tanaman kelapa sawit terus berkembang dengan pesat di Indonesia. Hal ini menunjukkan meningkatnya permintaan akan produk olahannya. Ekspor minyak sawit CPO Indonesia antara lain ke Belanda, India, Cina, Malaysia, dan Jerman, sedangkan untuk produk PKO lebih banyak diekspor ke Belanda, Amerika Serikat, dan Brazil (Pahan, 2008).

Rabu, 08 September 2021

Potensi Produksi Kelapa Sawit

Potensi Produksi Kelapa Sawit

Potensi produktivitas tanaman kelapa sawit yang dapat dicapai jika menggunakan kelas lahan dan benih kelapa sawit bermutu dan melaksanakan budidaya sesuai standar teknis, berdasarkan kelas tanah dalam jangka 20 tahun.

Berikut dapat diuraikan kelas kesesuaian lahan untuk tanaman kelapa sawit.

  1. Kelas S1
    • Pada wilayah dengan lahan yang mempunyai struktur kriteria yang baik,tidak mempunyai faktor penghambat ataupun ancaman kerusakan yang berarti. Tipe lahan seperti ini akan cocok usaha tani yang efektif. Faktor pembatas adalah bersifat minor dan tidak akan berpengaruh terhadap produktivitas kelapa sawit lahan secara nyata, dan iklim setempat sesuai bagi pertumbuhan tanaman kelapa sawit.
  2. Kelas S2
    • Tanah pada lahan kelas S2 mempunyai sedikit penghambat yang dapat mengurangi pilihan penggunaannya. Tanah pada kelas S2 ini membutuhkan pengolahan tanah secara hati-hati yang meliputi tindakan pengawetan untuk dapat menghindari kerusakan dan sekaligus untuk melakukan perbaikan hubungan air dan udara dalam tanah ditanami tanaman kelapa sawit.

  3. Kelas S3
    • Pada kelas S3 mempunyai lebih baik banyak hambatan dari tanah kelas S2 dan apabila tanah ini digunakan untuk tanaman pertanian akan membutuhkan tindakan pengawetan khusus yang umumnya lebih sulit pekerjaannya, baik dalam pelaksanaan maupun pekerjaan didalam periode pemeliharaannya. Kelas kesesuaian lahan dapat dinilai dari karakteristik lahan yang ada di lapangan ( Suwadi, 2013).

Dokumentasi kelapa sawit


Senin, 30 Agustus 2021

Syarat-syarat Tumbuh Tanaman Kelapa Sawit

Kelapa sawit (Elaeis guinness jacq) merupakan tanaman perkebunan yang sangat toleran terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik. Namun, untuk menghasilkan produksi yang tinggi kelapa sawit memerlukan kondisi lingkungan tertentu yang disebut dengan syarat tumbuh kelapa sawit.

Berikut syarat-syarat tumbuh tanaman kelapa sawit :

A. Kondisi iklim

Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada suhu udara 27°C dengan suhu maksimum 33°C dan suhu minimun 22°C sepanjang tahun.

B. Kondisi tanah

Sifat tanah yang ideal dalam batas tertentu dapat mengurangi pengaruh buruk dari keadaan iklim yang kurang sesuai. Misalnya tanaman kelapa sawit pada lahan yang beriklim kurang dapat tumbuh dengan baik jika kemampuan tanahnya tergolong tinggi dalam menyimpan dan menyediakan air. Secara umum kelapa sawit sendiri dapat tumbuh dan berproduksi tinggi pada tanah seperti: ultisol, entisol dan histosol.

C. Curah hujan

Curah hujan yang ideal bagi tumbuhan kelapa sawit yakni 2.000 - 2.500 mm pertahun dan tersebar merata setiap tahun. Musim kemarau selama 3 bulan dapat menurunkan produksi kelapa sawit. Sedangkan, curah hujan yang tinggi tidak berpengaruh buruk terhadap produksi kalapa sawit, asalkan drainase dan penyinaran cahaya matahari cukup baik (Sastrosayono, 2003).

D. Sinar matahari

Sinar matahari diperlukan untuk memproduksi karbohidrat dan memacu pembentukan bunga dan buah. Untuk itu, intensitas, kualitas dan lama penyinaran sangat berpengaruh. Lama penyinaran optimum yang diperlukan tanaman kelapa sawit antara 5-7 jam/hari. Penyinaran yang kurang akan menyebabkan berkurangnya asimilasi dan gangguan penyakit pada tanaman kelapa sawit (Hartono et al, 2003).

E. Suhu

Selain curah hujan dan matahari yang cukup, tanaman kelapa sawit memerlukan suhu yang optimum sekitar 25-28°C agar tumbuh dengan baik. Meskipun demikian, tanaman kelapa sawit masih bisa tumbuh pada suhu terendah 18°C dan suhu tertinggi 32°C.

F. Kesesuaian lahan

Lahan yang sesuai untuk tanaman kelapa sawit dapat berupa hutan, sekunder, semak belukar, bekas perkebunan komoditas lain, padang alang-alang atau bahkan bekas kebun tanaman pangan, serta kebun kelapa sawit tua (peremajaan).

G. Kelembaban udara dan angin

Kelembaban udara dan angin adalah faktor yang penting untuk menunjang pertumbuhan kelapa sawit. Kelembaban optimum bagi pertumbuhan kelap sawit adalah 80%. Kecepatan angin 5-6;km/jam sangat baik untuk membantu proses penyerbukan. Faktor-faktor yang memengaruhi kelembaban adalah suhu, sinar matahari, lama penyinaran, curah hujan dan evapotraspirasi (Fauzi et al, 2008).

Semoga bermanfaat!


Pengendalian Gulma

Pengendalian gulma dengan menggunakan bahan aktif Metil Metsulfuron + Gliphosate 🔥