Selasa, 27 Desember 2022

PENGENDALIAN PENYAKIT BERCAK DAUN PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis Guineensis Jacq) TAHAP PRE NURSERY

PENGENDALIAN PENYAKIT BERCAK DAUN PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis Guineensis Jacq) TAHAP PRE NURSERY

Kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq) merupakan tanaman komersial dari keluarga palem yang mampu menghasilkan minyak nabati yang dapat dimakan. Saat ini kelapa sawit banyak diminati untuk dibudidayakan oleh para pengusaha dan masyarakat. Daya tarik budidaya kelapa sawit menjadi andalan sumber minyak nabati dan bahan agroindustri (Sukamto, 2008).

Peningkatan produksi minyak sawit harus diupayakan peningkatan produksi untuk menyongsong era perdagangan bebas. Salah satu peningkatan produksi dari segi budidaya. Menurut Sukamto (2008), produksi minyak sawit Indonesia yang telah melampaui produksi minyak sawit Malaysia sebenarnya disebabkan oleh perluasan areal tanam, bukan faktor produktivitas.

Salah satu aspek yang harus mendapat perhatian khusus dalam mendukung program pengembangan kawasan kelapa sawit adalah penyediaan benih yang sehat, berpotensi lebih baik, dan tepat waktu. Faktor benih memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan penanaman kelapa sawit. Kesehatan tanaman pembibitan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan tingkat produksi selanjutnya setelah ditanam di lapangan. Oleh karena itu, teknik pengelolaan pembibitan kelapa sawit memerlukan perhatian khusus (PPKS, 2006).

Pembibitan kelapa sawit yang dijalankan oleh CV Manunggal Sawit Sejahtera merupakan salah satu langkah awal untuk menciptakan bibit yang sehat, berpotensi sempurna dan tepat waktu. CV Manunggal Sawit Sejahtera sendiri merupakan hasil kerjasama enam unit koperasi desa, antara lain KUD Bersama Makmur, KUD Jaya Usaha Mandiri, KUD Mandiri, KUD Jaya Makmur, KUD Sumber Sari, KUD Sumber Tani Mandiri dan KUD Tani Mandiri Jaya, yang berlokasi di Rayon D, (Kec. Tungkal Jaya), Sekayu, Sumatera Selatan. Mengenai beberapa kendala yang ditemui dalam pelaksanaan pembibitan kelapa sawit ini, seperti serangan bibit oleh berbagai hama seperti: penyakit Curvularia, penyakit antraknosa dan berbagai hama lainnya. Bercak daun yang disebabkan oleh Curvularia sp. di pembibitan kelapa sawit dapat mencapai 38% (Sholehudin et al. 2012).

Penyakit Curvularia dapat menyebabkan kematian bibit kelapa sawit jika tidak dikendalikan dengan baik. Dengan demikian proses pelaksanaan kegiatan pemeliharaan di pembibitan kelapa sawit terganggu, namun hal tersebut tidak menghalangi produksi bibit kelapa sawit yang berkualitas sebagai prioritas untuk memenuhi kebutuhan bibit peremajaan kelapa sawit serta terjaminnya kualitas dan kuantitas bibit.

Penyebab Penyakit Bercak Daun di Pembibitan Kelapa Sawit

Penyakit bercak daun disebabkan oleh jamur Curvularia sp. Curvularia sp merupakan jamur patogen yang menyebabkan penyakit bercak daun pada tanaman kelapa sawit sehingga  dapat mengganggu proses fotosintesis pada tanaman. Gejala serangan yang disebabkan oleh penyakit Curvularia sp. Yaitu bercak muncul saat tanaman berumur 4 sampai 6 minggu, berbentuk lingkaran dengan berdiameter berukuran 1,5 sampai 6 mm, bagian pusat bercak transparan dan bagian tepi berwarna coklat tua, pada kondisi lembab, daun yang terinfeksi menjadi kuning dan busuk, sedangkan pada kondisi kering daun menjadi kering dan rontok, adanya bercak bulat pada bibit kelapa sawit dan perlahan melebar.

Pengendalian Penyakit Bercak Daun di Pembibitan Kelapa Sawit

Tahapan pertama

Pengendalian penyakit bercak daun dilakukan dengan memisahkan tanaman yang terserang lalu menyiapkan ruangan isolasi untuk tanaman yang terserang. selanjutnya memotong bagian daun tanaman yag terserang penyakit dan setelah itu ruangan isolasi di sterilisasi dengan jenis fungisida yang berbahan aktif mankozeb atau sejenisnya.

Tahapan terakhir

Berdasarkan jenis bahan aktif fungisida yang digunakan adalah dithane M-45 80 WP. Dithane M-45 80 WP merupakan fungisida protektif berbentuk tepung yang dapat disuspensikan berwarna kuning keabu-abuan untuk mengendalikan penyakit bercak daun pada tanaman kelapa sawit, bawang, kakao, kacang tanah, kopi, karet, kentang, kelapa, dan tembakau. Dengan kandungan bahan aktif Mankozeb 80 WP yang memiliki cara kerja fungisida dithane sebagai racun kontak dan sistemik. Dosis yang digunakan untuk pembibitan kelapa sawit adalah 80 gr/lr sesuai dengan kebutuhan tanaman yang terserang penyakit. Penyemprotan dilakukan pagi hari setiap seminggu sekali.

Dokumentasi pengendalian











Penulis    : Muhamad Mahruddin

IG          @muhamadmahruddin

Blogger    : https://plantersawitmuda.blogspot.com


Senin, 06 Juni 2022

Cara Menghitung Kebutuhan Kecambah Kelapa Sawit

 


Cara Menghitung Kebutuhan Kecambah Kelapa Sawit

Rencana tanam untuk dasar kebutuhan bibit adalah 1.000 ha dengan jarak tanam segitiga sama sisi 9.4 x 9.4 m. Bibit untuk sisipan dicadangkan 5%. Seleksi 3% di kecambah, 7% di Prenursery & 13% di Main Nursery, Baby polybang 10% afkir dari jumlah yang dibeli dan Large Polybag 5% afkir dari jumlah yang di beli.
  1. Berapakah kecambah yang harus dibeli?
  2. Berapa jumlah polybang yang harus dibeli?
Kebutuhan bibit untuk tanam:

= 1000 x 10.000/(0.866 x 9.4 x 9.4)
= 130.685 (bibit)

bibit untuk pre nursery 5%
= 5% x 130.685
= 6.534 (bibit). Jadi bibit siap tanam sebanyak 137.219 pkk

Bibit di Main Nursery 13%
= 137.219 + (137.2.19 x 13%)
= 155.057 pkk

Bibit di Pre Nursery 7%
=155.057 + (155.057 x 7%)
= 165.911 pkk

Kebutuhan Kecambah 3%
= 165.911 + (165.911 x 3%)
= 170.888 kecambah

Kebutuhan Baby Polybag
= 165.911 + (10% x 165.911)
= 182.502

Kebutuhan Large Polybag
= 155.057 + (5% x 155.057)
= 162.810 

TERIMAKASIH

Minggu, 07 November 2021

Menentukan SPH, Jarak Antar Tanam, dan Jarak Antar Baris Kelapa Sawit

Menentukan SPH, jarak antar tanam, dan jarak antar baris kelapa sawit adalah suatu keputusan yang harus di ambil untuk memberikan dampak jangka panjang, terutama yang berkaitan produktivitas kelapa sawit. Kebijakan tersebut tergantung pada perusahaan atau pimpinan sesuai dengan SOP yang telah ditentukan.

SPH, JARAK ANTAR TANAM, dan JARAK ANTAR BARIS



Ketika kondisi pembukaan areal baru, supaya SPH dapat terpenuhi maka perlu dilakukan penentuan jarak antar tanam (JAT) dan jarak antar baris (JAB). Misalnya kita akan menentukan SPH 136 tanaman/ha.

Maka untuk menentukkan pancang JAT dan JAB mengikuti beberapa rumus berikut ini:

0

Keterangan:

JAB                  : Jarak antar tanam (m)

10.000 m2         : Luas areal satu ha

SPH                  : Jumlah tanaman/ha (136 tanaman/ha)

Sin 600              : 0.866

Kemudian angka yang telah ditentukan ke dalam rumus:

           

              

            

Apabila Jarak Antar Baris sudah kita ketahui maka selanjutnya kita mencari Jarak Antar Tanaman sebagai berikut:

     

Keterangan:

JAT                  : Jatak antar tanaman (m)

JAB                 : Jarak antar baris (m)

Sin 600             : 0.866

Lalu masukkan angka yang tersebut ke dalam rumus:

      

     

 

Dapat kita simpulkan bahwa, jika kita menerapkan SPH 136 tanaman/ha, maka jarak antar tanaman yang digunakan adalah 9 meter dan jarak antar baris 8 meter.

Note.

Penanaman kelapa sawit tidak dibenarkan jika terlalu rapat, karena hal ini akan menyebabkan etiolasi, sehingga tanaman kelapa sawit hanya akan tumbuh tinggi ke atas, tidak berproduksi secara optimum.


Minggu, 17 Oktober 2021

Teknik Pembukaan Lahan Gambut

 Teknik Pembukaan Lahan Gambut

Perkebunan kelapa sawit di Indonesia terbentang di sepanjang Sumatera hingga ke Sulawesi. Hampir di seluruh penjuru tanah air, perkebunan sawit didirikan di atas lahan gambut. Lahan ini merupakan tempat bagi keanekaragaman hayati dan populasi yang dilindungi serta sebagai penyuplai air, penyedia hasil hutan, dan pengendali banjir. Dalam proses pelaksanaanya, lahan gambut dijadikan alternatif pengganti lahan mineral sebagai areal yang dianjurkan bagi perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Pemanfaatan lahan gambut untuk tanaman kelapa sawit telah banyak dilakukan oleh perusahaan dan petani karena kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada lahan gambut asalkan dikelola dengan baik. Pengelolaan lahan gambut paling sedikit harus memperhatikan beberapa cara yang berbeda dengan tanah mineral seperti pembenahan fisik tanah, manajemen air, pemupukan, dan pemilihan varietas.

Perkebunan yang dibuka di areal tanah ini hanya diperbolehkan pada lahan yang terdegradasi, sementara untuk areal hutan, lahan gambut tetap dipertahankan sebagai hutan gambut. Hal ini untuk mengurangi terjadinya kemarau serta tingginya emisi gas rumah kaca yang diakibatkan pembukaan areal perkebunan dengan cara membakar dan merusak ekosistem lingkungan. Lokasi hutan yang telah didegradasi akan dimanfaatkan sebagai areal budidaya kelapa sawit.

Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum dimulainya proses penanaman adalah:

  1. Penyesuaian lahan
    • Membudidayakan jenis tanaman palem ini pada areal gambut perlu pertimbangan dan harus dipastikan lahan sesuai untuk budidaya kelapa sawit. Hal ini paling penting dan perlu diingat adalah lokasi yang akan digunakan tidak bertentangan dengan peraturan dan layak dijadikan tempat usaha. Keberhasilan budidaya tergantung pada proses perawatan dan kelola kebun dengan baik. Faktor-faktor yang memengaruhi adalah kematangan tanah gambut, kedalaman lapisan tombak berhasilnya pengairan di areal ini atau tidak.
  2. Pembukaan lahan yang baik
    • Lokasi yang cenderung kering akan menyebabkan hutan mudah terbakar dan menyebabkan kekeringan yang parah ketika musim kemarau tiba. Oleh karena itu, pengelolaan kebun tanpa membakar atau zero burning perlu diperhatikan. Membakar areal secara sembaranganakan mengurangi unsur hara yang tergandung dalam bahan organik yang mungkin tersisa. Kebakaran areal gambut akan memberi dampak yang tidak baik pada kualitas perkebunan, kesehatan manusia, hingga hilangnya nilai ekonomi bagi warga disekitar areal yang terbakar. 
  3. Manajemen air
    • Hal yang perlu diperhatikan mengingat areal yang kaya unsur organik ini adalah kering dan sangat sedikit kapasitas air di dalam tanah sehingga dibutuhkan sistem drainase yang tepat agar lahan tetap basah dan memiliki cadangan air. Manajemen air mencakup pengaturan permukaan air dipertahankan pada 50-75 cm, mencegah kekeringan di musim kemarau, mencegah oksidasi parit, dan mencegah akumulasi garam. Bagian lain dari manajemen pengairan ini juga mencangkup benteng yang berfungsi menahan air pasang, serta parit untuk mengumpulkan dan menyalurkan air dan pintu air yang berfungsi mempertahankan muka air dan menahan air pasang.
  4. Pemadatan gambut
    • Memiliki tujuan untuk memadatkan tanah sehingga daya topang yang baik terhadap tanaman agar tidak mudah doyong (condong). Pemadatan dapat dilakukan dengan menggunakan alat berat pemadat tanah. Perlakuan ini yang dapat dilakukan agar tanaman tidak condong adalah dengan menambahkan tanah mineral pada lubang tanaman kelapa sawit. Tanah mineral dicampur dengan tanah gambut di lubang tanam bibit kelapa sawit. Gambut memiliki kapilaritas yang besar sehingga gambut cepat kering dan air tanah sulit naik ke atas sampai permukaan tanah. Untuk menjaga tanah tetap lembab, maka pengaturan kedalam muka air tanah pada saluran drainase. Menjaga ketinggian muka air sekitar 60 cm pada saluran drainase merupakan hal yang sangat penting agar tanaman kelapa sawit tetap memperoleh air sepanjang tahun. Pemasangan pintu-pintu air pada ujung saluran drainase menjadi sangat penting untuk mengatur ketinggian muka air pada saluran. Pada musim hujan pintu air dibuka dan pada musim kemarau pintu air ditutup rapat-rapat.
  5. Pembangunan dan peningkatan kualitas jalan
    • Hal ini mencangkup penimbunan tanah mineral sebanyak 20-30 cm, perataan dan pemadatan serta pengerasan dengan pasir dan kerikil/batu.
  6. Pelaksanaan kultur teknis yang baik
    • Dalam melaksanakan kultur teknis yang baik, hal yang perlu diperhatikan adalah upaya untuk mengendalikan produksi, pengendalian gulma, hama dan penyakit, pemeliharaan jalan, perbaikan kualitas panen serta perawatan sarana yang digunakan untuk proses pemanenan.
  7. Pemupukan
    • Selama ini terjadi diperkebunan adalah penggunaan pupuk kimia yang berfokus pada produksi pohon bukan kepada perbaikan kualitas tanah. Padahal penting untuk mengikat sejumlah unsur tanah yang diperlukan oleh tumbuhan seperti penggunaan pupuk organik.
  8. Pengawasan terhadap titik api
    • Antisipasi terhadap musim kemarau yang memicu kekeringan pada perkebunan yang didirikan di atas tanah gambut perlu diperhatikan dengan mendirikan menara untuk memantau titik api yang muncul serta pembuatan marka tingkat bahaya api dan membuat organisasi yang mengendalikan laju penambahan titik api.
Delapan hal di atas menjadi acuan yang paling penting sebelum memulai proses pengerjaan. Kunci keberhasilan suatu perkebunan tergantung bagaimana cara masing-masing orang megelola dan mengembangkannya dengan baik tanpa merugikan pihak manapun.

Selasa, 12 Oktober 2021

Teknik Pembukaan Lahan Zero Burning

A. Teknik Zero Burning

 
 
Teknik zero burning adalah sebuah metode pembersihan lahan dengan cara melakukan penebangan tegakan pohon pada hutan sekunder atau tanaman pada tanaman perkebunan yang sudah tua misal kelapa sawit, kemudian dilakukan pencabikan (shredded) menjadi bagian-bagian yang kecil, ditimbun dan ditinggalkan disitu supaya membusuk/terurai secara alami.

Pembukaan lahan dapat dilakukan dengan 3 cara sebagai berikut:

    1.   Manual

Terutama tenaga manusia, alat-alat sederhana, pemakaian tenaga sangat banyak

2.      Mekanis

Menggunakan alat-alat pertanian seperti traktor, buldozer. Cara ini digunakan pada areal yang rata (kemiringan 0-8%). Pekerjaan dapat dilakukan lebih cepat. Satuan penggunaan alat berat dalam JKT (jam kerja traktor)

3.      Chemis

Peracunan pohon atau penyemperotan dengan bahan kimia tertentu (untuk lalang). Pada daerah curah hujan tinggi kurang efektif. Dibutuhkan air untuk pelarut herbisida.

 Pilihan: tergantung pada keadaan lapangan, ketersediaan tenaga kerja, dana, alat-alat serta jadwal waktu penanaman yang ditargetkan. Dalam pelaksaannya dapat menggunakan cara kombinasi.

Larangan: Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1995 tidak membenarkan melakukan pembakaran untuk tujuan pembukaan lahan.

    B. Manfaat Teknik Zero Burning 

Berikut manfaat dari teknik zero burning:

    1. Merupakan pendekatan ramah lingkungan yang tidak menyebabkan polusi udara.
    2. Mengurangi emisi gas rumah kaca (GHG) terutama CO2.
    3. limbah biomasa tanaman (bahan organik) dapat terurai sehingga meningkatkan penyerapan air dan kesuburan tanah yang dapat mengurangi kebutuhan pupuk anorganik dan mengurangi resiko polusi air yang disebabkan oleh pencucian nutrisi di permukaan.
    4. Penanaman bibit secara langsung pada timbunan limbah organik akan menambah manfaat agronomi (mempunyai nilai total nitrogen, potassium tertukar, kalsium dan megnesium yang lebih tinggi dan kehilangan nutrisi yang lambat).
    5. Pelaksanaanya tidak bergantung pada kondisi cuaca.
    6. Mempunyai periode keterbukaan lahan yang lebih singkat sehingga meminimalisasi dampak aliran  permukaan (run off) yang dapat menyebabkan penurunan muka air tanah, subsiden dan polusi.
    7. Pelaksaaan teknik zero burning dalam penanaman kembali kelapa sawit akan memberikan keuntungan tambahan berupa pemanenan secara kontinyu (terus menerus) sampai kelapa sawit ditebang.

   C. Hambatan Pelaksanaan Teknik Zero Burning

                    
                Berikut hambatan pelaksanaa dari teknik zero burnig:
    1. Terdapatnya serangan hama Oryctes rhinocerous (sejenis serangga) dan penyakit Ganoderma boninense (sejenis jamur) terhadap tanaman yang dibutuhkan kecuali dilakukan tindakan pencegahan yang intensif sebelum dan selama pelakasaan teknik zero burning.
    2. Pada hutan sekunder san rawa gambut, pelaksaan zero burning membuat daerah ini rawan terhadap serangan Rayap Captotermes Curvinaathus, Macrotermes Gilvus.
    3. Timbunan kayu atau biomasa dapat menjadi tempat berkembang biak tikus.
    4. Secara umum, teknik zero burning adalah lebih mahal untuk dilaksakan terutama pada lahan dengan volume biomasa yang tinggi. Teknik ini juga membutuhkan peralatan mesin berat yang tidak mungkin dapat disediakan oleh perkebunan berskala kecil.
    5. Pada saat musim kemarau, timbunan biomasa dapat mengalami pengeringan dan dapat menjadi sumber terjadinya kebakaran.

     D. Teknik Zero Burning untuk Penanaman Kembali pada Lahan Gambut

 Teknik zero buring dalam sistem penyiapan lahan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
    1. Perencanaan
      • Pembuatan desain yang mempertimbangkan lingkup pekerjaan, ketersediaan dari peralatan dan mesin yang dibutuhkan, waktu pelaksanaan dan anggaran biaya.
      • Pelatihan (training) atau field trip untuk personil atau kontraktor pelaksana yang kurang memahami teknik zero burning.
      • Penataan kembali jalur jalan atau sistem drainase: Jika lahan mempunyai sejarah terserang Ganoderma, dilakukan penanaman dengan tingkat kerapatan yang lebih tinggi.
    2. Penanggulangan Ganoderma
      • Dilakukan sensus tanaman yang terserang Ganoderma, ditandai lalu dicatat:
      • Pohon yang terserang penyakit ditebang sebelum penanaman kemudian dilakukan pencabikan (shredding) dan ditempatkan baris menggunakan excavator.
    3. Penentuan Batas
      • Penentuan batas dilakukan dengan baris tanaman baru, jalan, jalur pemanenan dan saluran drainase.
    4. Pembuatan Jalan dan Saluran
      • Pembuatan saluran sekunder dapat dikerjakan sebelum atau sesegera mungkin setelah penebangan:
      • Pada kondisi saluran drainase lama tidak sesuai dengan layout yang baru maka harus ditimbun dengan tanah dan saluran drainase baru segera mungkin. Tetapi jika saluran drainase lama dapat dipertahankan, maka dilakukan pengerukan lumpur sampai mempunyai kedalaman yang sama dengan saluran drainase yang baru:
      • Pada daerah datar, saluran drainase sekunder dibangun pada setiap empat atau delapan baris tanaman.
      • Pembuatan saluran drainase baru menggunakan double rotary ditcher, Buldozer atau Excavator digunakan untuk membuat jalan baru, yang sebaliknya dibuat agak tinggi agar jalan tersebut tidak becek/basah.
    5. Penebangan dan Pencabikan (shredding)
      • Tanaman yang sudah tua ditebang langsung menggunakan Excavator
      • untuk efektivitas pencabikan (shredding), mata pisau pemotong dibuat dari high tensile carbon steel:
      • Batang pohon dipotong-potong, pemotongan secara normal dilakukan dimulai dari bagian bawah batang.
    6. Penimbunan
      • Pada area dimana antara dua saluran drainase sekunder dibangun 4 baris tanaman, penimbunan material yang telah dipotong kecil-kecil dilakukan dipusat pada 4 baris tanaman diantara dua saluran sekunder
      • Pada area dimana antara dua saluran drainase sekunder dibangun 8 baris tanaman, penimbunan material hasil:
      • Pencabikan dilakukan secara bergantian antara baris tanaman di antara jalur drainase.
    7. Pembajakan dan Pengarungan
      • Setelah penebangan, pencabikan (shredding) dan penimbunanan selesai, pembajakan dan pengarukan dikerjakan sepanjang baris tanaman baru untuk menyiapkan areal permukaan tanam.
    8. Penanaman Tanaman polong-polongan (Legume) sebagai Tanaman Penutup
      • Tanaman Legume harus segera ditanam setelah penyiapan lahan selesai untuk memastikan kerapatan penutupan lahan dan mempercepat dekomposisi biomasa tanaman. Legume yang menutupi kayuan akan mengurangi resiko kebakaran , mengurangi perkembangbiakan serangga Oryctes dan pertumbuhan rumput.
      • Selain itu, legume dapat meningkatkan/memperbaiki kondisi fisik tanah dan kimia tanah, terutama sebagai fiksasi nitrogen:
      • Tanaman legume yang sering digunakan adalah kacang riji pueraria Javanica, Kacang calopogonium mucinoides dan calopogonium caeruleum.
    9. Pembuatan lubang tanam dan penanaman pembuatan lubang tanam dan penanaman dapat dilakukan segera setelah penyiapan lahan selesai. Pembuatan lubang tanam dapat dilakukan secara mekanis dengan alat pelubang tanam.
    10. Penumpukan/pencacahan (Pulverization)
      • Kebutuhan dilakukannya penumpukan tergantung pada resiko serangan hama oryctes. Pada lahan dimana terjadi serangan oryctes, terutama di sekitar pantai, penumpukan seharusnya dikerjakan dua sampai enam bulan setelah penebangan dan pencabikan untuk mempercepat perurainya/pembusukan:
      • Penumbukan dapat dilakukan menggunakan sebuah modifikasi heavyduty rotary slasher atau mulcher yang dipasang pada traktor 80-100 HP.
    11. Manajemen paska penanaman
      • Setelah penanaman, perhatian utama seharusnya diberikan pada:
      • Manajemen pengelolaan hama dan penyakit:
      • Pemantauan secara rutin terhadap kerusakan yang disebabkan oleh tikus dan jika memungkinkan dilakukan pembasmian dengan rodentisisda.
E. Teknis Pemadaman Kebakaran

   Teknis pemadaman merupakan langkah-langkah tentang bagaimana melakukan    kegiatan pemadaman sesuai dengan tipe kebakaran dan mempersiapkan peralatan yang akan digunakan. Teknis pemadaman yang dapat dilakukan pada daerah hutan dan lahan gambut adalah sebagai berikut:

    1. Menentukan arah penjalaran api (arah penjalaran api dapat diketahui melalui pengamatan dari tempat yang lebih tinggi ataupun dengan memanjat pohon).
    2. Sebelum dilakukan tindakan pemadaman, maka jalur transek yang jenuh air dibuat untuk menekan laju penjalaran api (berfungsi sebagai sekat bakar buatan) yang tidak permanen:
    3. untuk menghindari api loncat maka perlu dilakukan penebangan pohon mati yang masih berdiri tegak (snags). Karena ketika angin bertiup kencang, api yang telah merambat sehingga ke puncak pohon mati ini bara apinya atau bahkan bagian yang masih membawa lidah api dapat terbang hingga mencapai lebih dari 200m.
    4. Apabila pada daerah tersebut tidak ada sumber air maka yang harus dilakukan adalah membuat sumur bor. Kalau sumber air ada tetapi cukup jauh maka suplai air dilakukan dengan estafet (menggunakan beberapa pompa air). Jika dilakukan pembuatan sumur bor, maka koordinatnya perlu dicatat sehingga memudahkan dalam menemukan kembali titik-titik sumber air ini pada waktu-waktu berikutnya jika terjadi kebakaran lagi.
    5.  Pemadaman secara langsung sebaiknya dilakukan dari bagian ekor (belakang) atau sisi kiri dan kanan api. Jangan melakukan kegiatan pemadaman dari bagian depan (kepala api) karena akan sangat berbahaya. Tinggi nyala api (flame hight) dan panjang lidah api (falme length) selalu berubah-ubah dan sukar diperkirakan arah dan laju penjalarannya: asapnya banyak dan panas, sehingga air yang disemprerotkan menjadi tidak efektif (karena tidak langsung kena ke sumber api).
    6. Pemadaman secara tidak langsung dapat dilakukan dengan teknik pembakaran terbalik (backing fire), yaitu pembakaran dilakukan berlawanan dengan arah penjalaran api yang dikombinasikan dengan pembuatan sekat bakar buatan.
    7. Pemadaman dilakukan dengan teknik yang benar dan terkoordinasi seperti halnya dalam penggunaan peralatan pompa mesin yang berkombinasi dengan peralatan tangan.
    8. Pada daerah bekas terbakar terlebih dahulu dilakukan kegiatan mop-up (pembersihakn sisa-sisa bara api) untuk memastikan bahawa api telah benar-benar padam dengan cara melakukan penyemprotan air pada permukaan lahan bekas terbakar, hal ini penting dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan timbulnya kebakaran ulang.
    9. Personil pemadam harus berjalan hati-hati dengan menggunakan bantuan papan panjang sekitar 2 m agar tidak terperosok pada lubang bekas terjadinya kebakaran atau mengatisipasi kemungkinan timbulnya nyala api.
    10. Pemadaman pada bagain permukaan dilakukan dengan cara melakukan penyemprotan terhadap sumber api secara terarah (tepat sasaran) dengan menggunakan mesin pompa. Penyemprotan dilakukan secara tepat sasaran dan efektif sehingga air tersedai yang jumlahnya terbatas dapat digunakan secara optimal. Untuk mencapai sasaran tersebut lakukan kegiatan pencacahan tunggak/batang dengan menggunakan parang sehingga api benar-benar dapat dikendalikan dan padam.
    11. Apabila terjadi kebakaran tajuk, maka kegiatan pemadaman secara langsung dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan alat-alat berat seprti pesawat, traktor, buldozer, atau dilakuakn metode pemadaman tidak langsung yaitu dengan melakukan pembakaran terbalik (pembakaran dilakukan berlawanan dengan arah penjalaran api).
    12. Pelaksanaan pemadaman pada kebakaran tajuk dengan alat-alat seperti ini tidak terlalu memerlukan personil yang cukup banyak dalam mengontrol jalannya kegiatan pemadaman, namun disarankan agar cara ini dihindari pada lahan gambut karena arah penyebaran apinya sangat sulit untuk diperkirakan.
    13. Jika terjadi kebakaran bawah (ground fire) terutama pada lahan gambut di musim kemarau maka dilakukan pemadaman dengan menggunakan stik jarum yang ujungnya berlubang. Dalam pelaksanaannya, nosel stik jarum dapat ditusukkan pada daerah sumber asap hingga bahan bakar gambut menjadi gambar bagian-bagian api tampak seperti bubur karena januh air. Penusukan berulang-ulang dilakukan sampai apinya padam.
    14. Pemadaman api sisa yang letaknya tersembunyi sangat diperlukan mengingat api semacam ini sering tertinggal/bersembunyi di bawah tunggak atau sisa-sisa batang yang terbakar di lahan gambut. Pemadaman api sisa semacam ini dapat kita lakukan dengan membongkar/menggali dengan menggunakan cangkul kemudian disemprot lagi dengan air agar betul-betul apinya padam (tidak berasap lagi). Api sisa semacam ini dapat berkobar kembali jik ia bertemu dengan bahan/gambut kering di bawahnya.

    Selasa, 14 September 2021

    Botani Kelapa Sawit

    Botani Kelapa Sawit


    Klasifikasi tanaman kelapa sawit dapat diuraikan sebagai berikut.
    Kingdom: Plantae
    Divisi: Tracheophyta
    Sub divisi: Pteropsida
    Kelas: Angiospermae 
    Ordo: Arecalee 
    Familia: Arecaceae
    Genus: Elaeis 
    Spesies: Elaeis guieensis jacq (Lubis, 1992)
    Tanaman kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu bagian vegetatif dan generatif.
    Bagian vegetatif kelapa sawit meliputi akar, batang dan daun. Sedangkan bagian generatif yang merupakan alat perkembangbiakan terdiri dari bunga dan buah (Fauziet Al., 2008).

    Kamis, 09 September 2021

    Sejarah Perkebunan Kelapa Sawit

    Awal Masuk Kelapa Sawit Ke Indonesia


    Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1848, saat itu ada 4 batang bibit kelapa sawit yang dibawa dari Mamitius dan Amsterdam kemudian ditanam di Kebun Raya Bogor.

    Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai dibudidayakan secara komersial. Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Haller (orang Belgia). Kemudian diikuti oleh K. Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai berkembang.

    Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan kelapa sawit waktu itu mencapai 5.123 Ha.

    Pada tahun 1919, Indonesia mengekspor minyak sawit sebesar 576 ton dan pada tahun 1923 mengekspor minyak inti (PKO) sebesar 850 ton. Pada masa ke pendudukan Belanda, perkebunan kelapa sawit maju pesat sampai bisa menggeser dominasi ekspor Negara Afrika pada saat itu.

    Pada masa ke pendudukan Jepang, perkembangan kelapa sawit mengalami kemunduran. Lahan perkebunan mengalami penyusutan sebesar 16% dari total luas lahan yang ada sehingga produksi minyak sawit di Indonesia hanya mencapai 56.000 ton pada tahun 1948/1949, padahal pada tahun 1940 Indonesia mengekspor 250.000 ton minyak sawit. Pada tahun 1957, setelah Belanda dan Jepang meninggalkan Indonesia, pemerintah mengambil alir perkebunan.

    Luas areal tanaman kelapa sawit terus berkembang dengan pesat di Indonesia. Hal ini menunjukkan meningkatnya permintaan akan produk olahannya. Ekspor minyak sawit CPO Indonesia antara lain ke Belanda, India, Cina, Malaysia, dan Jerman, sedangkan untuk produk PKO lebih banyak diekspor ke Belanda, Amerika Serikat, dan Brazil (Pahan, 2008).

    Rabu, 08 September 2021

    Potensi Produksi Kelapa Sawit

    Potensi Produksi Kelapa Sawit

    Potensi produktivitas tanaman kelapa sawit yang dapat dicapai jika menggunakan kelas lahan dan benih kelapa sawit bermutu dan melaksanakan budidaya sesuai standar teknis, berdasarkan kelas tanah dalam jangka 20 tahun.

    Berikut dapat diuraikan kelas kesesuaian lahan untuk tanaman kelapa sawit.

    1. Kelas S1
      • Pada wilayah dengan lahan yang mempunyai struktur kriteria yang baik,tidak mempunyai faktor penghambat ataupun ancaman kerusakan yang berarti. Tipe lahan seperti ini akan cocok usaha tani yang efektif. Faktor pembatas adalah bersifat minor dan tidak akan berpengaruh terhadap produktivitas kelapa sawit lahan secara nyata, dan iklim setempat sesuai bagi pertumbuhan tanaman kelapa sawit.
    2. Kelas S2
      • Tanah pada lahan kelas S2 mempunyai sedikit penghambat yang dapat mengurangi pilihan penggunaannya. Tanah pada kelas S2 ini membutuhkan pengolahan tanah secara hati-hati yang meliputi tindakan pengawetan untuk dapat menghindari kerusakan dan sekaligus untuk melakukan perbaikan hubungan air dan udara dalam tanah ditanami tanaman kelapa sawit.

    3. Kelas S3
      • Pada kelas S3 mempunyai lebih baik banyak hambatan dari tanah kelas S2 dan apabila tanah ini digunakan untuk tanaman pertanian akan membutuhkan tindakan pengawetan khusus yang umumnya lebih sulit pekerjaannya, baik dalam pelaksanaan maupun pekerjaan didalam periode pemeliharaannya. Kelas kesesuaian lahan dapat dinilai dari karakteristik lahan yang ada di lapangan ( Suwadi, 2013).

    Dokumentasi kelapa sawit


    Senin, 30 Agustus 2021

    Syarat-syarat Tumbuh Tanaman Kelapa Sawit

    Kelapa sawit (Elaeis guinness jacq) merupakan tanaman perkebunan yang sangat toleran terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik. Namun, untuk menghasilkan produksi yang tinggi kelapa sawit memerlukan kondisi lingkungan tertentu yang disebut dengan syarat tumbuh kelapa sawit.

    Berikut syarat-syarat tumbuh tanaman kelapa sawit :

    A. Kondisi iklim

    Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada suhu udara 27°C dengan suhu maksimum 33°C dan suhu minimun 22°C sepanjang tahun.

    B. Kondisi tanah

    Sifat tanah yang ideal dalam batas tertentu dapat mengurangi pengaruh buruk dari keadaan iklim yang kurang sesuai. Misalnya tanaman kelapa sawit pada lahan yang beriklim kurang dapat tumbuh dengan baik jika kemampuan tanahnya tergolong tinggi dalam menyimpan dan menyediakan air. Secara umum kelapa sawit sendiri dapat tumbuh dan berproduksi tinggi pada tanah seperti: ultisol, entisol dan histosol.

    C. Curah hujan

    Curah hujan yang ideal bagi tumbuhan kelapa sawit yakni 2.000 - 2.500 mm pertahun dan tersebar merata setiap tahun. Musim kemarau selama 3 bulan dapat menurunkan produksi kelapa sawit. Sedangkan, curah hujan yang tinggi tidak berpengaruh buruk terhadap produksi kalapa sawit, asalkan drainase dan penyinaran cahaya matahari cukup baik (Sastrosayono, 2003).

    D. Sinar matahari

    Sinar matahari diperlukan untuk memproduksi karbohidrat dan memacu pembentukan bunga dan buah. Untuk itu, intensitas, kualitas dan lama penyinaran sangat berpengaruh. Lama penyinaran optimum yang diperlukan tanaman kelapa sawit antara 5-7 jam/hari. Penyinaran yang kurang akan menyebabkan berkurangnya asimilasi dan gangguan penyakit pada tanaman kelapa sawit (Hartono et al, 2003).

    E. Suhu

    Selain curah hujan dan matahari yang cukup, tanaman kelapa sawit memerlukan suhu yang optimum sekitar 25-28°C agar tumbuh dengan baik. Meskipun demikian, tanaman kelapa sawit masih bisa tumbuh pada suhu terendah 18°C dan suhu tertinggi 32°C.

    F. Kesesuaian lahan

    Lahan yang sesuai untuk tanaman kelapa sawit dapat berupa hutan, sekunder, semak belukar, bekas perkebunan komoditas lain, padang alang-alang atau bahkan bekas kebun tanaman pangan, serta kebun kelapa sawit tua (peremajaan).

    G. Kelembaban udara dan angin

    Kelembaban udara dan angin adalah faktor yang penting untuk menunjang pertumbuhan kelapa sawit. Kelembaban optimum bagi pertumbuhan kelap sawit adalah 80%. Kecepatan angin 5-6;km/jam sangat baik untuk membantu proses penyerbukan. Faktor-faktor yang memengaruhi kelembaban adalah suhu, sinar matahari, lama penyinaran, curah hujan dan evapotraspirasi (Fauzi et al, 2008).

    Semoga bermanfaat!


    Pengendalian Gulma

    Pengendalian gulma dengan menggunakan bahan aktif Metil Metsulfuron + Gliphosate 🔥